Langsung ke konten utama

Translate

Muslimah Cantik Indonesia

Kecantikan dimaknai dengan keanggunan, kehalusan dan keelokan.
Ada juga yang mengartikan kecantikan dalam kasad mata yaitu hal yang indah yang dapat membuat seseorang menjadi suka dan mencintai. Setiap wanita pasti tak lepas dari keinginan untuk selalu terlihat cantik. Namun apakah makna dari cantik itu sebenarnya ?

Kecantikan tidak hanya di berikan kepada manusia saja tetapi kepada segala sesuatu di alam semesta ini dari ciptaan ALLAH yang indah termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan.
Cantik dalam perspektif Islam tentu berbeda dengan cantik dalam perspektif pandangan manusia. Islam mengenal cantik lahiriah pun juga bathiniah. Namun dalam Islam, tidak ada artinya cantik lahiriah dibanding dengan cantik bathiniah.
Kecantikan lahiriah atau hiasan haruslah di dahului dengan kecantikan ”Khairaat” agar kita selaku wanita tahu bahwa seorang wanita yang baik adalah wanita yang memiliki kecantikan sifat dan akhlak lebih baik daripada wanita yang memiliki kecantikan fisik dan rupa semata. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa dalam Al Qur’an, ALLAH tidak memberikan patokan khusus pada kecantikan fisik dan rupa bagi wanita.

Seperti pada Hadits Rasulullah berikut ini: ”Sesungguhnya ALLAH tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi ia melihat hati dan amal kalian.” (HR.Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Jadi wanita, tak usah risau. Kecantikan fisik hanya sesaat akan habis dimakan usia. Kecantikan fisik tak bisa memancarkan kecantikan hati. Namun, kecantikan hati lah yang dapat memancarkan kecantikan fisik. Jika wanita diluar sana sibuk mempercantik fisik mereka dengan perawatan yang amat mahal, adapun untuk dirimu sibuklah mempercantik hati mu dengan akhlak mulia yang hanya orang-orang tertentu yang dapat memilikinya. Jadilah wanita cantik yang dibalut karena keshalihan mu.
”Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhisannya adalah wanita shalihah.” (HR.Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Riwayat Hadits Dari Abu Hurairah

Riwayat Hadits Dari Abu Hurairah 1. dari Abu Hurairah ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Imam sebagai penjamin sedangkan mu'adzin sebagai orang yang dipercaya. Ya Allah, luruskanlah para imam dan ampunilah para mu'adzin." Abu Isa berkata; "Dalam bab ini juga ada riwayat dari 'Aisyah, Sahl bin Sa'd dan Uqbah bin 'Amir." Abu Isa berkata; "Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Sufyan Ats Tsauri dan Hafsh bin Ghiyats dan beberapa orang dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." Asbath bin Muhammad juga meriwayatkan dari Al A'masy, ia berkata; "Aku pernah dibacakan sebuah hadits dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan Nafi' bin Sulaiman meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Abu Shalih dari ayahnya dari 'Aisyah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Abu Isa berkata; "Aku mendenga...

Hadits Bukhari No. 116

"Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah mendengar dari tuan banyak hadits namun aku lupa. Beliau lalu bersabda: "Hamparkanlah selendangmu." Maka aku menghamparkannya, beliau lalu (seolah) menciduk sesuatu dengan tangannya, lalu bersabda: "Ambillah." Aku pun mengambilnya, maka sejak itu aku tidak pernah lupa lagi." Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dengan redaksi seperti ini, atau dia berkata, "Menuangkan ke dalam tangannya." (HR. Bukhari: 116)

Larangan Untuk Niyahah (Meratapi Mayit)

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Asbath telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Hafshah dari Ummu 'Athiyah ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah membai'at kami untuk tidak melakukan Niyahah (meratapi mayit). Maka tidak seorang wanita pun dari kami yang wafat (lalu kami meratapinya) kecuali lima orang, termasuk di antaranya adalah Ummu Sulaim." HR. Muslim